Cerpen : Dua dunia


Di teras rumah sederhana itu..di atas kursi bambu tua terduduklah pasangan suami istri ditemani setumpuk pakaian yg akan diserahkan kepada pelanggan mereka. Pasangan suami istri ini sudah tidak muda lagi, guratan pahit manis kehidupan terlihat jelas di kulit wajah mereka. Sore itu pasangan yg sehari-harinya bekerja sebagai penyedia jasa laundry mengepak pakaian sembari menunggu anak bungsunya pulang sekolah. Anak bungsu yg sangat disayanginya dan itu pun juga berlaku untuk anak sulung yg merantau di Pulau Kalimantan.
Si bungsu kini tumbuh menjadi gadis manis, beratus teman di sekolah maupun dunia maya, dan ah..seperti kebanyakan gadis seusianya yg sedang dilanda perasaan aneh. Perasaan yg membuatnya senang tak terkira di waktu yg tak tentu. Perasaan yg jika salah menyikapinya akan menimbulkan dampak yg luar biasa hebat.
Ada yg berbeda dari ekspresi kedua orang tua ini, garis kesedihan nampak diantara guratan kulit yg menua. Pagi tadi si bungsu menangis. Walau sudah duduk dibangku kelas 2 SMA kadang beberapa kebiasannya terasa unik. Dia menangis karena ingin punya gadget baru yg lebih keren, biar bisa chit chat sana sini, biar ga dikira cupu, biar dianggap keren, biar bisa upload foto langsung dari ponsel. Tapi ah betapa si bungsu sering kali melupakan kondisi ekonomi keluarga yg serba terbatas. Biaya sekolahnya saja sebagian ditanggung oleh kakaknya.
Orang tua ini sadar betapa sedihnya hati si bungsu dan betapa ingin sekali mereka memenuhi keinginan anak gadis kesayangan mereka. Sering kali ibu termenung di sudut dapur saat memasak, memikirkan keadaan keluarga mereka. Setiap hari menghadapi kelakuan anak gadisnya yg tak kunjung mandiri. Sering tetangga sebelah memamerkan anaknya yg juga seusia dengan si bungsu, tetangga itu mengatakan bahwa anaknya rajin, suka membantu orang tua, mengantar ke pasar, dan lain sebagainya. Sudah barang tentu ada kepingan kecil dalan hati sang ibu, rasa iba. Bukan pada dirinya tapi pada nasib anaknya kelak. Beliau membayangkan jika saat ini saja dia belum bisa mandiri lalu bagaimana kelak ketika ternyata anak gadisnya sudah menikah, menjadi istri dan ibu. Atau bagaimana jika dalam waktu dekat ternyata ajal menjemput dirinya dan suaminya bagaimana si bungsu akan melanjutkan kehidupan. Ah, rupanya beginilah hati seorang ibu, sekalipun anaknya sering berbuat sekehendak hati, meminta ini itu atau hampir tak pernah membantu tapi hatinya tetap lembut dan penuh kasih sayang. Dalam tiap sholat dan sepertiga malam terakhir tak hentinya beliau memohon agar anaknya menjadi anak yg sholeh&sholeha.
Sebenarnya bukan tak pernah, sering malah orang tua ini menasehati anaknya agar bisa membedakan mana keinginan dan mana yg benar-benar kebutuhan, agar lebih mandiri dalam menjalani hidup. Usaha tersebut nampaknya belum membuhkan hasil. Tapi mereka tak berputus asa, mereka yakin kelak anaknya akan menjadi pribadi yg lebih baik.
Sang ayah pun demikian, bahkan sering kali beliaulah yg sangat sigap kalau-kalau peralatan sekolah anak bungsunya habis atau hilang maka beliau akan segera membelikan. Tak pernah satu kata kasar pun yg keluar dari lisannya. Seperti hari itu, saat ibunya sakit berat si bungsu bukan merawat justru main bersama temannya. Ingin rasanya beliau meminta agar menemani ibunya. Namun jawaban si bungsu selalu berhasil meluluhkan hatinya.
Bagi mereka hidup serba terbatas bukanlah derita karena besarnya cita-cita mereka terhadap anak gadisnya itu. Mereka ingin sekali kelak si bungsu hidup bahagia, mengenyam bangku kuliah, hidup sukses dan yg paling penting taat pada Tuhan. Cita-cita dan amanah sebagai orang tualah yg mebuat mereka bersabar dengan segala ujian ini.
Tanpa sadar air mata sang ibu membasahi pipinya, air mata karena besarnya keyikan pada Tuhan akan cita-cita tersebut dan air mata bahagia karena si bungsu pulang dengan selamat.
Di sudut kota yg lain. Di tengah keramain terduduk pula seorang gadis yg usianya jauh lebih muda. Bukan, ia bukan saudara si bungsu. Ini kisah lain. Ia adalah putri tunggal salah satu konglomerat di kotanya. Tapi itu dulu, tepatnya dua tahun lalu.
Gadis yg duduk di bangku SMP kelas 3 itu duduk menunggui dagangannya, jajanan khas kota itu. Sambil menunggu pembeli tak jarang ia melihat remaja seusianya jalan-jalan sore bersama orang tua atau teman. Hal itu membuatnya teringat akan kebiasaannya dulu di sore hari. Sepulang sekolah biasanya ia pergi makan atau ke toko buku bersama temannya, saat weekend ia dan orang tuanya pergi bertamasya, sungguh menyenangkan dan teramat sempurna kehidupannya dulu. Kini kebiasaan itu berganti dengan rutinitas berjualan jajan buatan ibunya, setiap sore sepulang sekolah. Tak ada lagi restoran atau toko buku atau wisata akhir pekan.
Perubahan itu bermula saat perusaahn ayahnya bangkrut akibat ditipu oleh rekan kerjanya. Habis sudah masa kejayaan mereka. Rumah dan mobil mewah terjual begitu saja. Ah saat itu rasanya roda kehidupan sedang menghimpit mereka, tak ada pilihan lain selain menerimanya. Penerimaan yg tulus karena keluarga ini memiliki pemahaman yg baik terhadap takdir. Begitu pula putri tunggal mereka.
Di luar dugaan gadis kecil itu ternyata sungguh tegar menghadapi kenyataan. Tak ada rasa malu atau keluh kesah yg keluar dari lisannya. Baginya bisa berkumpul dengan kedua orang tua adalah nikmat yg sungguh membahagiakan.
Saat itu karena keterbatasan dana mereka memutuskan memindahkan putrinya ke sekolah negri yg biayanya jauh lebih terjangkau. Tanpa ba bi bu si gadis  kecil pun menyetujui, asal masih bisa menuntut ilmu sudah cukup baginya. Entah darimana datangnya kedewasaan gadis berusia 15 tahun itu. Sungguh adaptasi yg bisa dikatakan kilat. Ibunya yg memiliki keahlian membuat kue segera menjadikannya sebagai jalan menjemput rejeki. Dan tanpa diminta, putrinya menawarkan diri menjajakan jajanan tersebut. Sementara sang ayah yg tak memiliki sepeser uang untuk dijadikan modal usaha kini bekerja sebagai supir.
Sampai detik ini gadis itu ingat betul hadist yg disampaikan guru agamanya bahwa salah satu ibadah yg utama adalah berbakti pada orang tua dan bahwa doa anak sholeha akan menjadi amalan jariyah untuk orang tuanya. Dengan pemahamn itulah ia senantyasa bersemangat membantu orang tuanya. Sebisa mungkin ia tak mengeluh di hadapan orang tuanya walau tak dipungkiri rasa sedih pasti ada dalam hatinya saat mengingat kehidupan yg dulu. Ia pun anak yg cerdas dan baik sehingga di sekolah barunya ia dijadikan pengurus mushola putri atau kadang diminta tolong gurunya merapikan pekerjaan. Tak banyak pendapatannya tapi begitu senangnya hingga ia segera menyerakan pada orang tuanya.
Ah betapa beruntung orang tua itu memiliki putri sepertinya.
Pernah suatu ketika sang ayah mendapat kecelakaan sehingga ibunya harus menjaga di rumah sakit. Tak ada jajanan yg dibuat dan dijual, akhirnya tanpa kekurangan akal ia pun menjual koran keliling agar tetap mendapatkan uang. Ia berjualan koran pagi hari sebelum berangkat ke sekolah dan selama itu pula ialah yg mengurus rumah. Ia menggantikan tugas ibunya memasak, mencuci pakain, dan segala pekerjaan rumah lainnya.
Siapa bilang ia tak sedih?siapa bilang ia tak lelah? Ia pernah merasa sedih juga lelah tapi perasaan itu ia curahkan hanya pada Tuhannya karna ia yakin setiap ujian pasti sudah terukur sesuai kemampuannya. Kalaupun sedih masih menggelayuti pikirannya maka sesegera mungkin ia menepisnya karena ia tahu orang tuanya juga pastilah merasa demikian, ia tak ingin menambah beban mereka. Sebaliknya orang tua ini juga mengerti betapa keadaan mereka sekarang membuat putrinya terguncang tapi sikap yg ditunjukkan oleh putri mereka justru membuat hati mereka buncah oleh kebahagiaan. Hingga mereka berdoa lirih agar Tuhan ridho pada anaknya karena mereka pun telah ridho.

Skala Prioritas

Assalamualaikum..

Sehari 24 jam, seminggu 7 hari, sebulan 30 hari dan seterusnya. Itulah waktu yang kita lalui dalam kehidupan. Ada yang diberi panjang umur ada yang sebaliknya. Terlepas dari panjang atau pendekanya umur seseorang karena memang itu tak dapat ditebak, yang pasti nikmat tersebut sering kali membuat lalai. Terutama jika dilengkapi dengan nikmat sehat, lebih-lebih deh. Kebanyakan dari kita kurang menghargai waktu, ya walau tak sedikit juga yang mengisi waktunya dengan kegiatan positif.
Berbicara soal waktu sungguh merupakan hal yang penting karena waktu tak dapat berputar kembali. Bahkan dalam salah satu surat dalam Al Qur'an Alloh swt. bersumpah menggunakan kata waktu :
(1)Demi masa. (2)Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, (3)Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal shalih dan nasihat menasihati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran.( Qs.Al-Ashr ayat 1-3)
Ayat tersebut kurang lebih menjelaskan betapa berharganya waktu dan waktu yang tidak diisi dengan amal shalih akan meruginya manusia karena kelalaian terhadap waktu.

Namun, sayangnya tidak semua orang menyadari pentingnya mengisi waktu dengan amal shalih. Kebanyakan menganggap bahwa hidupnya di dunia masih lama lagi, padahal salah satu hal yang paling dekat dengan manusia adalah kematian. Bayangkan jika ternyata kita menyia-nyiakan waktu dan mengisinya dengan hal negatif lalu ternyata saat itu adalah jadwal kematian untuk kita, hmmm naudzubillah.


Untuk itulah penting sekali bagi setiap kita menentuka skala prioritas. Mana yang penting dan mana yang harus dikerjakan lebih dulu. Bahkan dalam Islam sudah diatur mana hal yg wajib, sunnah, mubah dan haram. Ibadah wajib hendaknya segera dilakukan dan yang haram ditinggalkan. Jika seorang hamba mampu melakukannya dengan mengharap ridho Alloh semata bisa dikatakan dia hamba yang bertakwa (wallahua'lam) Lebih-lebih jika dia jg mampu mengerjakan yang sunnah dan mengurangi porsi untuk yang mubah.

Jangan sampai dunia ini melenakan kita, membuat lalai akan hal yang urgent atau wajib.  Menunda menolong orang tua hanya karena asyik seliweran di dunia maya rasa-rasanya kok gak mutu banget yaa. Bahkan dalam hadist Rasululloh saw. "Abdullah (bin Mas'ud) r.a. berkata, "Saya bertanya kepada Nabi, 'Apakah amal yang paling dicintai oleh Allah?' (Dalam satu riwayat: yang lebih utama 3/200) Beliau bersabda, 'Shalat pada waktunya' Saya bertanya, 'Kemudian apa lagi?' Beliau bersabda, 'Berbakti kepada kedua orang tua.' Saya bertanya, 'Kemudian apa lagi'? Beliau bersabda, 'Jihad (berjuang) di jalan Allah."' Ia berkata, "Beliau menceritakan kepadaku. (dalam satu riwayat: "Saya berdiam diri dari Rasulullah.") Seandainya saya meminta tambah, niscaya beliau menambahkannya." (H.R. Bukhari).

Semoga Alloh menjadikan kita hambaNya yang menghargai waktu dan dimampukan untuk mengisi waktu dengan amal shalih, aamiin.

Wassalamualaikum

Manajemen Galau


Assalamualaikum..
Holaaa galauers,,hahaha..

Oke berhubung saat ini lagi nge-trend istilah galau, yuk kita bahas dikit. Ya walauuuu saya bukan pakar galau tapi lets try.. ;)
So, yang pada suka ngomong galau di dunia nyata maupun dunia maya (red : socmed) uda pada ngerti ga sih arti kata galau? *ini juga termasuk nanya ke diri sendiri* . Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia galau adalah kacau tidak karuan (pikiran). Berarti jika ditilik dari makna tersebut otomatis pasti semua manusia yang punya hati dan pikiran pernah merasakan galau. Bahkan galau bisa dibilang wajar. Tapi etapi..tingkat kegalauan setiap orang beda-beda. Ada yang karena hal kecil uda galau, karena ga bisa beli gadget baru galau, ga punya pacar galau, de el el. Padahal kebanyakan remaja bisa dibilang galau yang bukan pada tempatnya. Wow, uda kayak sampah aja ya yang harus pada tempatnya, hehehe. Tapi ini ciyuuuss. Indikator galau yang tidak pada tempatnya adalah galau karena sesuatu yang sangat tidak prioritas dan cenderung ke arah keliru. Kembali lagi aturan yang dipakai adalah aturan agama dan karena saya beragama islam jadi ya aturan dalam Islam. Semisal karena ingin dibilang keren trus galau ga punya gadget baru, padahal menurut skala prioritas bisa jadi beli gadget punya urutan ke sepuluh. Atau galau di PHP-in, nah ini nih yang paling sering nongol di socmed. Lagipula sapa juga yang nyuruh berharap sama manusia, berharap sama suami/istri yang jelas sudah halal aja kagak boleh apalagi ngarep pada orang yang bisa jadi ga punya perasaan apapun sama kita (eh maaf ralat, sama orang uda ngerasa di PHP-in)
So menurut ilmu saya yang masi cetek ini, jika pikiran kita lagi kacau, galau, amburadul coba deh beberapa hal berikut :

1. Ingat ke Alloh swt. Sesegera mungkin dengan bermacam cara, bisa dengan istighfar, berwudhu lantas sholat atau mengaji. Ingat lah bahwa apa yang terjadi padi kita adalah atas ijinNya, bukan karena Dia ingin kita susah, tidak. Tapi pasti dibalik galau ini ada hikmah besar, jika kita mau introspkesi. Ketahuilah hanya dengan mengingat Alloh hati menjadi tenang? (QS ar Ra'd : 28). Dan apapun ujian yang menimpa kita sudah terukur sesuai kemampuan. Berprasangka baik ke Alloh adalah cara mudah untuk bisa optimis. Ingat Alloh juga termasuk dengan bersyukur. Ebusyeett gile aje yee uda galau masi disuru bersyukur. Hmm, helloooo kalau mau itung2an, galau kita ini ga ada seujung kuku dari nikmatNya yang diberikan pada kita. Boleh kok kalo kita curhat ke Alloh, justru ini yang dianjurkan bukan di socmed *kalem*

2. Kalo uda cukup tenang coba deh tanya ke diri sendiri penyebab kegalauan. Nah untuk yang satu ini paling tidak perlu menambah ilmu pengetahuan. Supaya kita tahu bisa jadi apa yang kita pusingkan adalah sesuatu yang ga seharusnya seperti contoh di atas. Dengan tahu sumber galau kita belajar juga mengukur skala prioritas untuk galau tsb, jika posisinya bukan 3 besar jadi buat apa lama2 dipupuk subur galaunya? Nah sekedar sharing aja beberapa hal yang pantas digalaukan adalah apakah kita sudah jadi manusia yang taat pada Tuhan?apakah kita sudah jadi anak yg berbakti sama ortu?dan apakah kita sudah jadi manusia yang bermanfaat untuk orang lain? Jangan-jangan justru kitalah sumber atau vektor penular galau ke orang lain *kalem*

3. Cari lingkungan yang positif. Masih ingat hadist ini
Permisalan teman yang baik dan teman yang buruk ibarat seorang penjual minyak wangi dan seorang pandai besi. Penjual minyak wangi mungkin akan memberimu minyak wangi, atau engkau bisa membeli minyak wangi darinya, dan kalaupun tidak, engkau tetap mendapatkan bau harum darinya. Sedangkan pandai besi, bisa jadi (percikan apinya) mengenai pakaianmu, dan kalaupun tidak engkau tetap mendapatkan bau asapnya yang tak sedap.” (HR. Bukhari 5534 dan Muslim 2628)
Nah kalo lingkungan kita aja orang2 yang gampang galau, ya jangan kaget kalo ntar lagi bisa2 Anda jadi ratu/raja galau. Jika untuk berbuat kebaikan janganlah pilih-pilih, tapi untuk kebaikan dirimu pilih2 teman ini ibarat menemukan kapal yang akan membawa ke sebuah pulau yg sangat indah. Jangan kebalik lhoo.


4. Lakukan kegiatan yang positif. Jika ingin membaca ya membaca yang memberikan dampak positif, jangan novel teenlit mulu, apalagi stalking temlen orang *ehem*. Sekali-kali baca shiroh Nabi dan sahabat. Kalo mau nonton jangan cuma infotaiment atau boyband korea, coba deh nonton berita sodara kita di Gaza, atau lihat video tentang parenting *buat ortu/calon ortu*. Kalo mau santeee denger musek kayak dipanteee boleh, asal jangan musik yang cengeng. Malah subur aja tuh galau, hehehe.Boleh juga ikut ekskul di sekolah, tapi jangan demi bisa nglirik gebetan yeee. hehe

Oke, semoga tulisan ini bermanfaat tidak hanya untuk saya pribadi tapi juga untuk orang lain. Sayangilah diri sendiri dan malulah kalau galau hanya karena urusan simple yang sebenernya tanpa galau juga akan beres. Galaulah pada sesuatu yang pantas digalaukan yang bisa bikin kita deket ke Alloh dan jadi pribadi yang lebih baik, misal galau karena dosa yang inysaAlloh bikin kita taubat dan memperbaiki diri.
Jika ada kekurangan atau kesalahan saya mohon maap yee.

Wassalamualaikum

Plesir ke Panti Asuhan Balita (pat II)

Assalamualaikum..

Pada tulisan saya yang sebelumnya pernah membahas mengenai pengalam saya ke panti asuhan bayi sehat Sang Surya. Nah kali ini saya juga akan menceritakan kunjungan saya hari Minggu kemaren ke panti asuhan tersebut.
Saat itu saya datang sendirian, sudah kali kedua sih saya datang sendiri karena teman yang biasanya menemani sedang berbulan madu dengan suaminya, just married gitu ceritanya hehe. Suasana yang berbeda dari biasanya yang rame dan terdengan suara tawa dan tangis balita, namun saat itu sepi bahkan saya kira balita nya lagi jalan-jalan. Untung saja ada mba pengasuh yang menyambut kedatangan saya. Usut punya usut ternyata beberapa balita dipindahkan ke panti asuhan lain yang lokasinya ada di Rungkut, Surabaya. Kini balita yang tersisa di panti ini hanya enam orang. Pantas saja suasananya sepiiiiii.

Nah ini dia balita lucu yang masih berada di panti Sang Surya

Dari mba pengasuh itu saya diberi alamat panti tempat beberapa balita dipindahkan. InsyaAlloh dalam waktu dekat saya akan berkunjung, kangen sama mereka hehe..
Tunggu liputan saya selanjutnya yaaa..

Wassalamualaikum

Masa lalu

Masa Lalu

Dan pada akhirnya semua akan menjadi masa lalu..
Tapi bukan hanya masa lalu karena ada nilai yang bisa dihadiahkan untuk generasi sekarang.
Apa yang kita jalani sekarang, yang kita pilih saat ini adalah juga gambaran untuk masa depan kita.
Bergulir terus dan terus.
Jika tak ingin masa lalu menjadi cerita yang lebih banyak sesalnya maka saat ini lakukan yang terbaik.

Masa lalu,,ada kalanya mengingatnya membuat hati pilu
Ingin memutar waktu andai mampu, tapi tidak.
Bahkan kadang ingin berjumpa dengan orang di masa lalu dalam kesempatan berbeda yang jauh lebih baik. Sungguh itu diluar kuasa manusia.

Orang di masa lalu dalam hidup kita jika diminta memilih bisa jadi mungkin tak memilih masuk dan mewarnai hidup kita.
Sebaliknya kita juga turut memberikan warna pada hidup mereka, silahkan nanti bagaimana mereka melihatnya..dari sudut pandang yang mana,, terserah saja.

Memaafkana orang lain dan juga diri sendiri atas kejadian di masa lalu tak ubahnya seperti memilih masa depan yang lebih indah.


Kunci hati

Assalamualaikum..

Alhamdulillah...alhamdulillah..alhamdulillah..
Maka nikmat Tuhanmu yg manakah yg kau dustakan? (QS : Ar Rahman)

Kalo mau itung2, sumpah saya ga bohong nikmat Alloh tu buanyaaakk banget, yang ada kita justru akan kelelahan menghitung nikmatNya saking banyaknya. Nikmat kesehatan, makan, bernafas, minum, bahagia. dann yg utama nikmat iman dan islam.

Maka jika saat ini diantara kita ada yang merasa sedih, putus asa, merana, frustasi atau sejenisnya, coba deh dibandingin banyak mana nikmat Alloh sama ujian yang menimpa sekarang? Lalu tenangkan diri sejenak dengan mengingat Alloh bisa hanya dengan duduk atau berwudhu atau sholat. Tenangkan diri, ingatlah bahwa detik ini Alloh ngeliat kita, Alloh tahu kita lagi mewek, dan hey apa kita ga malu?kenapa musti malu??? Malu lah karena nikmatNya jauh lebih banyak dari ujianNya, malulah karena di luar sana ada orang yang ujiannya jauh lebih berat dari kita, malulah karena sungguh Alloh tak pernah mengecewakan hambaNya. Jika kita mewek berlebihan kok keliatannya kita jadi cenderung "protes" ke Alloh ya..seakan-akan hati bertanya kenapa begini kenapa begitu??

Jika cukup tenang, boleh deh kita minum air putih atau kalo lagi puasa baca istighfar atau baca Al-Qur'an.

Setelah tenang coba deh kita saring apa siiiihh yang bikin sedih??ga naik kelas?dimarahi ortu?ga punya gadget baru kayak teman-teman?lagi bokek se bokek-bokeknya?atau ga jadi juara kelas? Iya itu emang menyedihkan?sapa pula yg bilang itu bukan kabar sedih? tapi sedihnya jangan lebay jangan sampe gantung diri atau minum jus baygon, jangan!!! Inget ibumu uda masakin nasgor paling enak,hehehe.
Hidup musti dilanjutin bro,,sekalipun beban berat menghimpit (ciyuuuss ini ngomomg ke diri gue juga). Tangisan sampe beribu ember pun ga bakalan bisa merubah keadaan 180 derajat. Pilihannya adalah HADAPI
Bekal menghadapinya adalah tawakal yg sempurna ke Alloh. Yakin seyakin-yakinnya bahwa ujian ini sudah terukur sesuai kemampuan kita kok, yakin bahwa jalan keluarnya udah ada hanya saja kita perlu membuktikan kesabaran kita dan membuktikan bahwa apapun ujiannya kita masih dan akan terus berada di jalanNya.
Dan ingatlah kalo pun ingin sedih sesedih-sedihnya, maka alasan yang paling pantas adalah karena dosa kita, kalo mau galau yg parah ya alesannya juga karena dosa kita. Sumber kesedihan karena dosa insyaAlloh akn membuat kita lebih dekat ke Alloh jika kita bertaubat. Alloh Yang Maha menerima taubat insyaAlloh akan menerima taubatan atas segala dosa kita.

Yang ingin saya tekankan adalah berusahalah agar kita pemegang kendali atas hati kita, pemegang kunci hati. Dengan demikian kita akan lebih selektif dalam memilih mana yang boleh masuk ke hati. Perkuatlah benteng dengan memperkuat keyakinan ke Alloh, dengan mengerjakan amalan baik, dengan banyak mengingat mati. Selain itu juga dengan pemahaman yang baik tentang Dzat Alloh. Itulah yang nantinya akan membuat hati kita lebih tangguh, tidak mudah sedih oleh hal-hal yang kecil. Bukan berarti tidak punya rasa sedih akan tetapi jadi lebih bijak menyikapi suatu hal.
Semangat...selama masih diberi hidup selama itu pula akan ada ujian baik berupa kesempitan atau kelapangan. Jagalah Alloh maka Alloh akan menjagamu.
Wassalamualaikum

Don't judge a book by its cover

Assalamualaikum
Bismillah


Siapa sih yang hari gini ga familiar sama quote "Don't judge a book by its cover"? Quote fenomenal sejak jaman saya sok ngebritish sama gak british sama sekali,hehehe.
Well, dari quote itu kita dinasehatkan agar tidak berburuk sangka, tidak menilai orang lain hanya dari tampilan sekelebat mata kita. Sekalipun toh kita benar-benar mengenalnya menurut saya tidak ada hak untuk menilai orang lain, apalagi menghakimi bahwa seseorang itu A, B, C dan lain-lain.

Semisal kita melihat orang yang -maaf- bertato lalu merokok, minum-minuman keras tetap saja jangan sampai kita menghakiminya atau menilai orang tersebut pendosa. Padahal bisa saja orang tersebut belum mengetahui bahwa apa yang dilakukannya adalah hal yang merusak dirinya sekaligus dilarang agama, atau mungkin bisa juga dia sudah mengetahui dan sangat ingin berhenti melakukannya akan tetapi ia masih belum mampu. Setiap ia mencoba menjauh ia jatuh kembali dalam maksiat. Selalu banyak kemungkinan yang kita tidak tahu proses apa saja dalam kehidupannya yang telah dia lalui. 
Alloh lah yang mengetahui hati setiap orang, Dia pula yang mampu membolak-balikkan hati setiap hambaNya. Tidak menutup kemungkinan jika lusa atau seminggu lagi orang tersebut berubah menjadi seorang pendakwah. Sebaliknya takutlah jika saat ini kita berprasangka buruk pada orang lain karena bisa jadi suatu ketika justru keadaan kita berubah menjadi apa yang sudah kita prasangkakan pada orang tersebut.
Kewajiban kita adalah mengingatkan bisa dengan ucapan atau tindakan atau paling tidak adalah dengann mendoakan orang lain maupun diri kita agar tetap terjaga dalam tali agama Alloh.
Bagi yang saa ini telah diberikan hidayah berada dalam jalan ketaatan pada Alloh, berdoalah agar diberi keistiqomahan dan janganlah merasa diri lebih baik daripada orang lain. Merendahkan orang lain bisa jadi jalan menuju kesombongan dan mengundang murka Alloh. Padahal tidak menutup kemungkinann justru suatu saat keadaan kita berbalik menjadi buruk, naudzubillah..

Nah dikisahkan dalam sebuah peperangan melawan orang kafir, Usamah mengejar salah seorang dari pasukan musuh. Kejaran Usamah yang tangkas dan lincah membuat musuh tidak bisa mengelak. Ketikah Usamah bin Zaid mencabut pedangnya, orang itu segera mengucapkan syahadat. Tetapi Usamah tetap mengayunkan pedangnya sehingga terbunuhlah orang itu.
Ketika mendengar peristiwa ini, Nabi Saw marah. Beliau mengecam dengan sangat keras kepada Usamah bin Zaid, Nabi Saw bertanya, "Engkau membunuh setelah ia mengucapkan la ilaha illallah?"
"Ia hanya mengucapkan kalimat itu karena hendak berlindung dari pedangku,"jawab Usamah.
Maka beliau bertanya lagi, "Mengapa tidak Engkau belah dadanya? Lalu apa yang engkau perbuat dengan kalimat  la ilahaa illallah?"
Dalam peristiwa itu Nabi Saw sangat marah karena seorang sahabat membunuh musuh yang bersyahadat, meskipun bersyahadat pada saat kondisinya sudah sangat terpojok. Nabi Saw mengungkapkannya dengan kalimat, "Mengapa tidak Engkau belah dadanya?" Ini menunjukkan kepada kita agar tidak gegabah menghukumi seseorang. Apalagi sampai memastikan isi hati, itikad, dam akidah seseorang hanya berdasar kesan sekilas.

Semoga tulisan ini bermanfaat tidak hanya untuk saya tapi juga pembaca blog ini.
Wassalamualaikum

up