Mumpung lagi kesambet nih,,sehari nulis dua tulisan *jarang-jarang nih*. Kali ini cuma pengen nyeritain pengalam orang lain yang kebetulan denger langsung.
Suatu hari ada saudara dan keluarganya yang datang ke rumah, biasa lah pasti kalo lagi kumpul-kumpul begini adaaaaaa aja bahan buat diobrolon apalagi emak-emak,hehe. Si saudara ini sebenanrnya ceritanya ke ortuku sih, tapi berhubung aku juga di TKP ya otomatis denger, masa iya mau nutup telinga,hehehe *alesan*. Intinya beliau cerita gimana salah satu anaknya ini, yang sudah berkeluarga *dua anaknya sudah berkeluarga*, menurut mereka kurang bisa bertanggung jawab terhadap keluarganya. Kenapa mereka bisa mersakana begitu?aku juga ga ngerti kebenarannya dan aku ga mau ngebahas disini, ga enak lah.
Tapi sodara sodara yang pengen aku bahas lebih lanjut dsini adalag nasehat emak ku. Sepulang saudara ini, malamnya biasa lah aku dan ibu ngobrol-ngobrol dan ga sengaja alurnya nyampe ke cerita tadi siang. Ibu berpesan kalo suatu saat nanti aku punya anak lebih dari satu *kalo sekarang aku anak tunggal* maka jangan sampai membanding-bandingkan anak kita sekalipun dengan saudara sekandung. Apalagi, kata ibu, sampai harus menceritakan sesuatu yang sebenernya ga enak didenger sama yang bersangkutan di depan saudara kandungnya langsung. Misalnya nih ada ibu yang cerita sama orang lain tentang sesuatu yang buruk pada anaknya A yang saat itu juga ada anaknya yg lain B. Apalagi jika kedua anak ini punya kehidupan yang berbeda, dari segi harta ataupun tingkat pendidikan, paham ga sih?hehe..
Kalo dipikir-pikir bener banget nih nasehat ibu, mari kita perinci one by one :
1. Mana ada sih orang yang sempurna tanpa satu kekurangan pun?kalo ada sini deh bawa di mari biar aku kasih duit,hahaha. Setiap orang pasti punya kekurangan dan kelebihan, entah itu yang lebih dominan mana tergantung banyak faktor. So, jahat banget kan kalo kita meremehkan orang lain trus menganggap diri kita paling baik *ke laut aje deh..*
2. Berdasarkan poin no 1 sudah pasti juga ga ada orang yang mau dibanding-bandingin. Apalagi yang paling sering anak keluarga A dibandingin sama anak keluarga B. Lah jelas-jelas genetik, pola asuh, apa yg dimakan aja beda mau disama-samain gimana coba. Kalau puuuuun alibinya adalah untuk memotivasi supaya si anak jadi lebih baik, ya pliiiiis deh kayak ga ada cara lain aja. *yuk mari sama-sama belajar parenting*
3. Dari sudut pandang orang tua nih, kayak gimana juga apapun sifat, sikap mereka ya mereka tetep anak dari orang tua tsb. Bisa jadi sikap mereka yang sekarang salaha satu nya adalah karena pola asuh orang tua di masa lalu. Jadi tolooong jangan diskriminasikan anak sendiri. Anak juga manusia, punya hati juga lhooo..
Disini saya bukan ingin menyalahkan orang tua, enggak sama sekali. Saya ga brani. Lha wong jelas-jelas dalam setiap ayat Al Qur'an perintah berbakti sama orang tua aja disandingkan setelah larangan syirik. Kurang berbobot apa coba kewajiban birul walidain. Hal yang pingin saya *eh kok jadi formal bgini yak* bagikan adalah jangan meremehkan orang lain, jangan diskriminasikan orang lain, terlebih pada anak sendiri. Ada cara lain yang lebih patut kalaupun ada masalah yang harus diselesaikan, ada cara yang lebih lembut untuk menyampaikan keluh kesah.
Wassalamualaikum
Bukankah setiap kita mengaku mencintai diri masing-masing?
Tapi faktanya, disadari atau tidak sering kali kebanyakan wanita termasuk saya justru melakukan tindakan yang tidak mecerminkan cinta pada diri sendiri.
Seperti apa yang kita ucapkan, yang dituliskan, perilaku kita sehari-hari.
Oh,,diriku..maafkan aku yg selama ini mengaku mencintaimu tapi justru mendzalimi mu..
Betapa sering lisan ini mengeluh, membicarakan orang lain, berkata kasar pada orang tua, berbohong sekalipun dalam canda.
Betapa sering aku tak menunaikan hakmu dengan berhijab yang tak sesuai syariat, betapa aku juga sering menampakan aurat pada yang bukan muhrim mu, mengenakan pakaian tapi seperti tak berpakaian
Maafkan aku diriku..
Tak hanya itu, aku pun telah mengeruhkan mata hatimu dengan keinginan dipuji oleh manusia karena kepintaran, karena fisik atau hanya karena benda-benda duniawi.
Padahal bukankah itu semua hanya titipan, sementara.
Padahal setiap bagian tubuh ini adalah pemberian Allah; mata, telinga, hidung, suara, semuanya. Dan masing-masing bagian tubuhmu memiliki hak untuk beribadah padaNya.
Bahkan tak jarang atas nama pujian, aku sering mengorbankan kejernihan hatimu, memaksimalkan usaha hanya untuk dinilai baik oleh manusia.
Betapa malangnya engkau yang karna nafsu buruk dan sedikitnya pemahamanku justru bisa jadi tak mengundang ridha Allah.
Andai kutuliskan semua kedzalimanku padamu mungkin tak akan habis tinta dilautan.
Tapi ijinkan aku memperbaiki diri karna bukankah Rahmat dan Ampunan Allah sangat luas.
Aku tak ingin makin memperburukmu dengan berputus asa.
Sekali pun mungkin ini sudah terlambat, tapi tak apalah. Setidaknya masi ada sisa umurku yang bisa kupergunakan untuk diisi kebaikan padamu dan pada makhluk lain.
Mungkin kini kau yang terbiasa dengan segala kedzaliman itu akan sulit untuk merubahnya.
Tapi sekali lagi jangan berputus asa diriku.
Luruskan niat dan yakinlah Allah akan meolong kita.
Aku ingin mencintai diriku sendiri karena diri ini lah bukti cinta Allah pada mahklukNya
Aku ingin mencintai diriku sendiri karena nantinya setiap bagian dalam diri ini akan diminta pertangungjawabannya.
Aku ingin mencintai diriku sendiri dengan cara yang benar, cara yang ditunjukkan Allah dalam tulisan kitab suci maupun yang dicontohkan RasulNya.
*mohon maaf jika ada kesalahan*
Dan diam sejenak, bertanya dalam hati apakah yg aku takutkan ini adalah sesuatu yg seharusnya ditakuti atau tidak?
Bukankah kita manusia hanya boleh takut pada Allah. Takut jika Allah tak ridho, tak mengampuni dosa kita, tak menerima amal ibadah kita.
Jika takutmu bukan karena Allah, jangan takut karena akan ada berjuta cahaya untuk meneranginya.
Aku sedih..
Hari-hariku sekarang bukan lagi hari-hari yang biasa kulalui.
Ada banyak perbedaan, perubahan.. Dan itu tiba-tiba.
Tapi, bukankah hidup memang seperti itu?
Siap tak siap, suka atau tidak perubahan akan menghampiri.
Aku lelah..
Ingin rasanya berlari jauh.
Namun lari sejauh mungkin, berteriak keras, menangis sampai mata bengkak tak akan mengubah keadaan.
Nikmatilah lelahmu, karena bisa jadi tak ada lelah yang seperti ini lagi.
Tenanglah..
Ujian ibarat tamu yang datang dalam kehidupan, tak kan lama.
Jika kau pikir kau sendiri, salah besar.
Ada Allah yang saat ini sedang menyaksikanmu.
Ya Rabb..
jika sebelumnya aku seperti ulat kecil yang lemah tak berdaya maka tolonglah aku tuk menjadi seperti batu karang yang tegar dihempas ribuan ombak.
Ijinkan aku tuk tetap berada dalam jalanMu sekalipun ujian ini seakan memaksaku berlari jauh.
Nb : semoga lekas sembuh papah...aku sama ibu sayang papah
Surabay, 20 November 2013
Inilah yang terus berjalan sekalipun semua manusia berunjuk rasa meminta dihentikan.
Dalam setiap detiknya ada banyak kejutan yang bisa terjadi dalam kehidupan seseorang dan itulah waktu.
Tapi waktu pula lah yang sering dinobatkan sebagai obat termanjur untuk setiap kesedihan.
Waktu
Tak seorang pun yang dapat menebak apa yang akan terjadi dalam sepersekian detik ke depan.
Di waktu yang sama ada manusia yang merasa menjadi orang paling bahagia namun di belahan dunia lain bisa jadi saat itulah ia menjadi orang paling menyedihkan. Unik
Waktu
Di dalam perputarannya segala hal dapat terjadi. Tak ada yang tak mungkin.
Fakir mendadak menjadi konglomerat atau sebaliknya.
Si sehat dapat menjadi si sakit atau sebaliknya
Maka sungguh dalam waktu ada harap.
Waktu
Dialah yang dengan namanya Sang Pencipta Alam bersumpah.
Demi masa. Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian. Kecuali orang yang beriman dan orang-orang yang yang mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat dan menasehati supaya menetapi kesabaran.
Jika waktu terus berjalan dan apa saja berkemungkinan terjadi pada diri kita, suka atau tidak, maka tak ada yang lebih baik selain menerima.
Apakah ratapan dapat menghentikan waktu atau merubah keadaan? Tidak
Apakah berdiam diri akan membuat segalanya jadi lebih baik? Tak ada yang menjamin.
Waktu
Karena hidup kita adalah berpacu dengan waktu.
Mengisinya dengan kebaikan atau keburukan adalah pilihan yang sebenarnya sudah pula diberikan petunjuk jalan mana yang harus ditempuh.
Waktu
Jika detik ini seseorang bisa merasakan kesedihan maka tak ada yang mustahil di detik berikutnya merasakan kebahagiaan.
Tak ada yang mustahil karena Yang Maha Kuasa lah yang menggenggam waktu.
Waktu
Setiap detiknya ada harapan, doa, peluang.
Karena malam yang gelap akan berganti dengan indahnya mentari pagi, sekalipun mendung.
Waktu
Identik dengan sabar.
Tapi sabar bukan menghitung mundur waktu
Setiap episode kehidupan memiliki rentang waktu sendiri.
Dan disitulah yakinmu padaNya diuji.
Bukan tak jarang seseorang harus menggigit kuat-kuat keyakinan yg dimiliki dalam kondisi tertentu.
Kondisi dimana sebenernya ia sedang rapuh, dimana hatinya sedang bergejolak dalam badai ujian.
Hingga untuk menangis pun ia tak memiliki keberanian.
Tapi ia paham bahwa apa yg ia yakini adalah hal yg benar.
Baginya keyakinan itu ibarat penguat, ibarat akar yg menjaga agar pohon tak roboh tertiup angin.
Walau mungkin sewaktu-waktu bisa saja akar tersesbut melemah.
Dan disinilah setidaknya kekuatan doa bekerja.
Setiap lantunan doa seakan mampu menumbuhkan seribu cabang akar.
Menggigit kuat keyakinan sperti menggigit buah mengkudu, pahit.
Tapi bukankah buah pahit itu memiliki khasiat yg luar biasa.
Berdiri tegar dengan keyakinan dalam hati.
Percayalah bahwa ini tak kan lama, sebentar lagi, sebentar lagi..
Jika sabarmu tinggal setetes maka datanglah padaNya.
Jika air matamu tak terbendung, mengadulah padaNya.
Dia lah Alloh Yang Maha Benar, JanjiNya benar.
Dia tak akan menyia-nyiakan hambaNya.
Sebentar lagi, tak lama lagi...
Pasti, bersama kesulitan ada kemudahan
Surabaya, 8 Oktober 2013
13.15 WIB
